Kasihan Dengan Kondisi Keluarga, PT MSAM Cabut Tuntutannya Terhadap Karyawan Melanggar Hukum

terasbanua.com, Kotabaru - Baru-baru ini, seorang kepala keluarga yang ketahuan melakukan tindak pidana pencurian dihentikan tuntutannya.



Pria yang bekerja sebagai karyawan di PT Multy Sarana Agro Mandiri (MSAM) perusahaan perkebunan kelapa sawit, ketahuan mencuri mesin bekas milik perusahan.


DR, ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar pasal 372 KUHP dan perkaranya sudah P21 atau pelimpahan ke kejaksaan kini diberhentikan tuntutannya.


Kejaksaan Negeri Kotabaru, melakukan pemberhentian tuntutan terhadap tersangka DR, setelah pihak korban melakukan perdamaian dengan pelaku di Kantor Kejaksaan Negeri Kotabaru pada 13 Januari lalu


Sepakat damai, Kejaksaan Kotabaru menerbitkan surat pemberhentian penyidikan terhadap tersangka DR, yang ditandatangani langsung oleh kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Andi Irfan Syafruddin pada  Kamis (20/1/2022).


Manejemen PT MSAM sepakat mencabut tuntutannya setelah mengetahui tersangka DR, nekat melakukan perbuatan melanggar hukum karena kebutuhan sekolah anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar.


Demi keperluan anaknya sekolah, tersangka DR nekat menggelapkan satu unit mesin kompresor, satu unit mesin penggerak diesel, dan satu unit mesin semprot.


"Semua barang bekas ini diambil dari workshop PT MSAM di Desa Semisir Kecamatan Pulau Laut Tengah Kabupaten Kotabaru pada 2020 silam," kata GM PT MSAM II, Adam Silvanus, kepada Wartawan, pada Senin (31/1/2022).


Diketahui, karyawan nekat melakukan itu, akhirnya manejemen perusahaan sepakat untuk mencabut tuntutannya.


"Setelah penuh pertimbangan, kami sepakat mencabut tuntutan itu. DR seorang karyawan yang jadi tulang punggung keluar harus menanggung beban hidup keluarganya. IA juag menghidupi istri dan anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar," pungkas Adam Silvanus.


Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Andi Irfan Syafruddin, melalui Kasi Intel Ahmad Ridwan, membenarkan pemberhentian tuntutan terhadap perkara 372 KUHP.


"Ya, tuntutan terhadap terdakwa DR, telah di hentikan. Hal ini dilakukan setelah kedua belah pihak sepakat berdamai," tutur Ridwan.


Dijelaskannya, dalam proses tuntutan hukum, ada yang namanya Penghentian Penuntutan Berdasarkan Hati Nurani (Restoratif justice).


"Tidak serta merta kita memandang dari segi pelanggaran hukumnya. Jaksa penuntut umum juga punya sudut pandang berdasarkan hati nurani," imbuhnya.


(Her)

2 tampilan0 komentar