Kabar Lia, Bocah Selamat dari Longsor yang Merenggut Keluarganya di Meratus HST

terasbanua.com, Barabai - Tiga pekan lebih pascabanjir di Hulu Sungai Tengah (HST), Lia (6) mulai nampak ceria.

Lia dirawat keluarganya yang tinggal di sebuah pondok di  lahan pertanian di Dusun Cabai di Desa Patikalain Hantakan. Foto istimewa

Senyum manis bocah dari Kaki Pegunungan Meratus di Dusun Mandila Desa Patikalaian Kecamatan Hantakan ini terpancar ketika para relawan dari Kabupaten Balangan menjenguknya.


Lia terlihat bercengkrama dengan 4 relawan dari Balangan yakni, Selvi, Amliana, Wanda Fariqah dan Yuni Nugrahaning Widhi.


Sesekali Lia tertawa saat berinteraksi dengan keempatnya yang menyalurkan donasi atau bantuan untuk Lia.


"Alhamdulillah, adek Lia bisa seceria ini sekarang," kata Wanda saat mengunjungi Lia belum lama tadi.


Mengenang kembali tragedi yang merenggut keluarga Lia di Mandila, sang Bibi, Hatri (40) dan Mariati (40) menceritakan.


Rabu malam (13/1/2021), debit air di Hantakan meningkat drastis. Air bah menghantam beberapa desa di Hantakan.


Puncaknyanya, Kamis (14/1/2021), tebing-tebing di Hantakan longsor. Air bah luapan sungai Hantakan mulai menggenangi beberapa wilayah HST yang dilalui aliaran sungai itu.


Di Mandila Hantakan, tiga buah rumah dan 1 balai adat tertimbun lelongsoran. Termasuk rumah keluarga Lia.


Lia ditemukan kakek, nenek dan bibinya dalam keadaan tertimbun longsor. Kepala hingga pinggangnya tertancap di tanah


"Andaikan tidak cepat ditolong kakak dan nenek, Lia mungkin bisa meninggal," kata Hatri.


Nahas, bersamaan itu, ibu dan adiknya, Yanti (30) dan Yanda (3) ditemukan sudah tak bernyawa. Keduanya juga ditemukan tertimbun tanah.


Sementara dua anggota keluarga lainnya, yakni ayah dan kakanya, Yansyah (35) dan Doni (8) hingga kini belum ditemukan.


Keluarga menganggap keduanya sudah meninggal dan memutuskan untuk tidak mencari lagi jasadnya.


Kini Lia menjadi yatim piatu. Dia dirawat keluarganya yang tinggal di sebuah pondok di  lahan pertanian di Dusun Cabai di Desa Patikalain Hantakan.


" Selama 3 hari setelah kejadian, Lia selalu mencari ayah, ibu dan saudaranya. Setelah kita 'tatambai' (pengobatan tradisional-red) Lia sudah tidak mengenang kejadian itu," terang Hatri.


Kabar tentang Lia ini  viral di sosial media. Tak sedikit orang yang datang menjenguknya dan membantu Lia.


Bencana alam yang mengawali 2021 ini tercatat sebagai banjir terparah sepanjang sejarah HST. 10 dair 11 kecamatan di HST terendam banjir dengan total korban terdampak menyentuh puluhan ribu.


Berdasarkan data BPBD HST yang dirilis Diskominfo per 5 Februari tadi, 92 desa/kelurahan terdampak banjir.


Korban yang terdampak mencapai 87.506 jiwa dari 29.062 KK. Sedangkan korban meninggal sebanyak 10 orang.


Puluhan ribu sarana dan prasarana di HST pun terdampak. Mulai dari fasilitas umum jalan, perkebunan, peternakan hingga pelaku UMKM.


(Asl)

3 tampilan0 komentar