Inilah Daftar Penyakit Penyerta Yang Tak Boleh Disuntikan Vaksin Sinovac

TERAS BANUA, BANJARMASIN - Guna menekan penyebaran virus Covid-19 yang kian meningkat setiap harinya. Pemerintah pun akan melakukan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat Indonesia.

Ilustrasi vaksin Covid-19 (SHUTTERSTOCK/solarseven)
Ilustrasi vaksin Covid-19 (SHUTTERSTOCK/solarseven)

Vaksin yang digunakan merupakan vaksin buatan China produksi Sinovac. Rencananya akan dilaksanakan secara serentak tanggal 14 Januari mendatang di setiap daerah.


Mengenai hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Machli Riyadi, membenarkan kabar tersebut. Sabtu, (9/1/2021).


"Rencana penyuntikan pertama vaksinasi ini akan dilakukan pada tanggal 13 Januari di pusat, setelahnya tanggal 14 baru serentak di daerah.


Tahap pertama di daerah vaksinasi dilakukan kepada tenaga medis terlebih dahulu, tahap kedua baru masyarakat," kata Machli melalui sambungan telpon.


Teknis pemberian vaksinasi kepada masyarakat ini, nantinya dilakukan pendataan terlebih dahulu, mengingat ada beberapa kategori yang tidak bisa diberi vaksin Covid-19 produksi Sinovac.


"Sebelumnya mereka yang menerima vaksin telah kami daftarkan, ada data-data lengkap yang kami miliki. Dimana pertama anamnesis dulu baik itu usianya berapa, dan apakah memiliki penyakit riwayat yang masuk kategori penerima vaksin, serta keluhan-keluhan lainnya. Memang sebelumnya kami data dulu," paparnya.


Diakui Machli, pemberian vaksinasi Covid-19 ini tidak jauh berbeda seperti pemberian vaksin pada umumnya. Pelaksanaannya pun akan dilakukan ke seluruh puskemas Kota Banjarmasin, tentunya di wilayah masing-masing.


"Masyarakat yang divaksinasi nanti harus menunjukan KTP. Di mana sebelumnya memang kami sudah memegang data lengkap orang yang ingin divaksin," ujarnya.


Banyaknya kabar buruk mengenai vaksinasi buatan negara Tirai Bambu yang menyebabkan masyarakat ragu. Membuat Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mengambil langkah untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat.


"Pembukaan nanti kita gelar virtual zoom kepada masyarakat, kita lakukan sosialisasi dulu. Mungkin hari Senin pagi atau Selasa kami akan sosialisasikan kepada masyarakat mengenai vaksin ini," ucapnya.


Selain itu, pihaknya pun akan melibatkan para penyuluh kesehatan, pembuka agama, tokoh masyarakat untuk lebih menyakinkan masyarakat yang masih awam terhadap vaksinasi ini.


"Melalui penyuluh kesehatan, tokoh masyarakat dan pembuka agama melalui FKUB Forum Komunikasi Umat Beragama ya terutama MUI melalui NU dan Muhammadiyah. Kami meminta untuk bisa membantu kami memberikan penjelasan secara mendalam kepada masyarakat untuk lebih menyakinkan bahwa penggunaan vaksinasi Covid-19 ini terjamin aman," terangnya.


Seandainya pada saat penyuntikan vaksin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya pun telah siap siaga untuk mengantisipasi apabila terjadi kemungkinan tersebut.


"Kalau terjadi dampak yang tidak diharapkan, kami sudah mempersiapkan antisipasinya dan akan langsung dilakukan penanganan di tempat rujukan," pungkasnya.


Sebelumnya, pemerintah pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 Tentang Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.


Dalam surat keputusan tersebut, ada beberapa kondisi yang membuat vaksin Covid-19 tidak bisa diberikan kepada seseorang.


Rekomendasi tersebut khusus untuk vaksin Sinovac berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).


Berdasarkan pengukuran tekanan darah didapatkan hasil 140/90 atau lebih tidak bisa diberikan vaksin.


Bagi seseorang yang berada dalam salah satu kondisi diantaranya, pernah terkonfirmasi Covid-19, sedang hamil atau menyusui, mengalami gejala ISPA, seperti batuk/pilek/sesak napas dalam 7 hari terakhir, ada anggota keluar yang kontak erat/suspek/terkonfirmasi sedang dalam perawatan karena Covid-19, memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak dan kemerahan setelah divaksinasi Covid-19 sebelumnya (untuk vaksinasi kedua), sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah, menderita penyakit jantung (gagal jantung atau coroner), menderita penyakit Autoimun Sistemik (SLE/Lupus, Sjogren, vaskulitis), menderita penyakit ginjal, menderita penyakit Reumatik Autoimun atau Rhematoid Arthritis, menderita penyakit saluran pencernaan kronis, menderita penyakit hiperteroid atau hiperteroid karena autoimun, menderita kanker, kelainan darah, imunokompromais/defisiensi imun, penerima produk darah/transfusi, dan menderita HIV dengan angka CD4 lebih dari 200 atau tidak diketahui.


Selain itu, pemberian vaksin juga akan ditunda apabila orang tersebut dalam kondisi demam dan penyakit paru seperti asma, PPOK, dan TBC. Pemberian vaksin pun baru bisa diberikan setelah kondisi pasien membaik.


(Hamdiah)

59 tampilan0 komentar