Harapkan Sejarah Kelam Tidak Terulang, LSISK Gelar Aksi Menolak Lupa Tragedi Jumat Kelabu

terasbanua.com, Banjarmasin - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Lingkar Studi Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK) melakukan aksi menolak lupa perihal Tragedi Jumat Kelabu. Selasa (24/5/2022) di Bundaran Hotel Arum Banjarmasin.



Berdasarkan pantauan, Aksi yang diamankan oleh personel dari Polresta Banjarmasin tersebut terlihat berjalan dengan lancar dan damai hingga akhir.


Ketua Umum LSISK Abdul Syahid mengatakan kegiatan ini digelar untuk mengingatkan umumnya masyarakat dan khususnya pemerintah Kota Banjarmasin mengenai tragedi kelam di masa lalu.


"Aksi ini untuk menolak lupa tragedi kemanusiaan pada tanggal 23 Mei 1997 silam di Banjarmasin," tuturnya.


Ia menjelaskan pada aksi hari ini mereka mengangkat tema mengenai kolerasi antara akumlasi kemarahan masyarakat masa, kesenjangan ekonomi dan pembangunan yang terjadi pada masa orde baru.


"Hal tersebut harus selalu diingat oleh penguasa dari hari ini maupun nanti, agar apapun kebijakan yang dibuat pemerintah kedepannya benar benar diperhatikan dampaknya pada masyarakat," jelasnya.


Abdul Syahid mengatakan aksi ini memang harus rutin dilaksanakan tiap tahunnya agar tragedi kelam tersebut tidak terulang lagi kedepannya.


"Biar bagaimanapun masyarakat Kalsel pada dasarnya di kenal ramah dan kalem tapi mengapa sampai bisa terjadi tragedi 23 Mei? Apa yang terjadi? Itu tidak bisa dilihat simpel hanya karena polarisasi politik namun ada juga faktor permasalahan yang menumpuk dan mempengaruhi psikologi kolektif saat itu yang akhirnya membuat amarah masyarakat meledak," terang Ketua Umum LSISK.


Menurut Ketua Umum LSISK tersebut sejarah bisa saja terulang, maka dari itu ada kekhawatiran jika sampai melupakan sejarah.


"Konflik sosial pasti terjadi, masalahnya tinggal bagaimana pencegahan dari penguasa melalui jajarannya," ujarnya


"Maka dari itu, dengan diperingati hari ini semoga semua pihak dapat mengambil pelajaran dari tragedi tersebut," lanjutnya.


Ia berharap apa yang terjadi pada 25 tahun silam tidak terjadi lagi dan pemerintah dapat belajar dari tragedi masa lalu dalam menetapkan segala kebijakan agar tidak terjadi lagi.


"Ayo kita lebih dewasa dalam menyikapi problem politik dan pada penguasa agar lebih peka dalam membaca apa yang terjadi di masyarakat," pungkasnya.


(Krisna)

3 tampilan0 komentar