Dituding Kriminalisasi Ulama, Tim Hukum Ibnu Sina: Bedakan Apa Itu Kriminalisasi Dan Penegakan Hukum

terasbanua.com, Banjarmasin - Laporan yang dilayangkan Tim Kuasa Hukum Ibnu Sina - Arifin Noor terkait adanya tindakan kampanye dan pencemaran baik yang dilakukan pembuka agama beberapa waktu lalu membuat salah satu ulama di Banjarmasin berkomentar.

Tim Kuasa Hukum Ibnu Sina - Arifin Noor melapor ke Bawaslu terkait dugaan pelanggaran kampanye dan pencemaran nama baik yang dilakukan kubu Paslon nomor urut 04 beberapa waktu lalu.

Dimana ulama tersebut menyayangkan tindakan yang dilakukan Tim Kuasa Hukum Ibnu Sina - Arifin Noor untuk membawa permasalahan tersebut ke ranah hukum.


Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Kuasa Hukum Ibnu Sina - Arifin Noor, Imam Satria Jati, mengungkapkan ada bukti yang mendasari sehingga pihaknya mengambil langkah tersebut.


"Kalau korupsi itu ada putusannya ada nomor perkaranya dan lainnya. Kalau ini tidak ada semua artinya fitnah. Menyebutkan Ibnu Sina sebagai Wahabi itu juga fitnah dan menebar kebencian," ucapnya kepada terasbanua.com melalui sambungan telpon, Senin (26/4/2021) siang.


Dirinya juga menyayangkan tudingan yang menyebut langkah pihaknya untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum merupakan kriminalisasi kepada ulama.


"Seharusnya beliau berdiri pada kebenaran. Membela orang yang menebarkan fitnah dan kebencian sama saja salah," ujarnya.


Kemudian, Imam menuturkan "Kalau beliau bilang bala akan datang karena adanya tindakan kriminalisi pada ulama itu salah. Seharusnya beliau melihat ini secara penuh," sambungnya.


Menurut Imam, sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut seharusnya dipahami terlebih dahulu apa bedanya kriminalisasi dengan penegakan hukum.


"Kita melaporkan ke Bawaslu untuk telusuri bersama Gakkumdu, ternyata terbukti telah pelanggaran hukum. Saya tegaskan kembali yang kita lakukan ini merupakan penegakan hukum bukan kriminalisasi ulama," tegasnya.


Iman juga khawatir atas kejadian ini nantinya akan berpengaruh buruk pada masyarakat luas. Sehingga ini menjadi koreksi ke depannya untuk pembuka agama agar tidak menyudutkan pihak manapun demi kepentingan.


"Ulama yang kita anggap memberikan pencerahan itu menebarkan fitnah dan kebencian. Lalu pada siapa lagi kita harus berpijak? Kalau ada ulama seperti itu nanti orang-orang akan mengikuti jadi bahaya. Jadi ini menjadi pelajaran kita," tuturnya.


Ia juga berharap masing-masing pendukung dari Paslon untuk tidak saling menyudutkan satu sama lain serta tidak merusak demokrasi yang telah dibangun negara ini.


"Intinya jangan menebarkan fitnah dan kebencian untuk mendukung salah satu. Cukup dukung kelebihan masing-masing saja tanpa menyudutkan pihak lain. Bebas mau berpolitik asal mengikuti aturan dan mari berpolitik secukupnya," tandasnya.


(Hamdiah)

4 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua