Banyak Bangunan Ambruk, Pakar Bahas Kegagalan Konstruksi

terasbanua.com, Banjarmasin - Banyaknya pondasi bangunan ambruk yang terjadi di Kota Banjarmasin turut menjadi sorotan.



Bahkan hal ini menjadi menarik perhatian kalangan arsitek di Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk dibahas.


Hingga Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengelar webinar dengan mengangkat tema "Bangunan Ambruk: Menggali Kembali Kearifan Arsitektur Lokal” untuk mengupas fenomena menarik tersebut.


Dalam acara ini, turut menghadirkan para narasumber yang ahli dalam bidangnya masing-masing, yakni DR Bani Noor Muchamad ST, MT sebagai peneliti Tipologi Bangunan Tradisional Banjar dan IR Muhammad Dedy Huzairin Msc sebagai Peneliti Struktur Bangunan Tradisional Banjar.


DR Bani Noor Muchamad menjelaskan bahwa hakikatnya dalam membangun pondasi pada sebuah bangunan perlu diperhatikan sisi lingkungan terutama lahan yang dipilih untuk dibangun dengan menyesuaikan kearifan lokal.


Mengingat pemilihan lahan yang tepat maka akan menghasilkan pondasi bangunan yang kuat. Tentunya juga mengunakan material yang cocok.


"Fenomena adanya bangunan ambruk tidak mungkin disebabkan dari hanya satu faktor, tetapi itu akumulasi dari beberapa sebab, baik sebab alamiah ataupun sebab oleh manusia," ucapnya.



Lebih lanjut ia menjelaskan  bahwa tanah gambut memiliki karakteristik yang berbeda yakni bisa menyerap air lebih banyak. Namun sekarang berubah akibat adanya pengurukan tanah yang mengakibatkan daya serapnya tidak optimal sehingga menyebabkan banjir.


Sementara itu, Muhammad Dedy Huzairin mengatakan penyebab kegagalan konstruksi pada sebuah bangunan umumnya cukup banyak tejadi.


"Bila kita lihat kembali sejak tahun 2018 sampai dengan awal 2021 lalu. Ada 21 bangunan yang runtuh yang sumbernya dari media sosial dan media resmi," bebernya.


Menurutnya, mungkin saja masih banyak lagi bangunan runtuh yang terjadi. Namun hanya tidan terpublikasi saja.


Dalam fenomena ini, ternyata keruntuhan terdapat beberapa kondisi seperti proses kearah keruntuhan jumlahnya lebih banyak dibandingkan bangunan runtuh itu sendiri, sebagian runtuh, dan biasanya owner (penghuni) melakukan perbaikan rumahnya.


"Dalam konteks sebagian permasalahan itu bisa seperti penurunan lantai, kerentanan dinding, kemiringan bangunan," tuturnya.


Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Banjarmasin memiliki lapisan tanah lunak sedalam 25m dan tanah keras rata-rata terdapat di kedalaman 40m. Menarik rumah-rumah tradisional tidak menggunakan ataupun mengandalkan pancangan tetapi mengandalkan daya dukung dengan pondasi palang/kacapuri / penanpang lebar.


"Hampir semua rumah runtuh hampir semua menggunakan pondasi cerucuk galam," ungkapnya.


Maka dari itu, salah satu upaya dalam meminimalisir runtuhnya bangunan penting rasanya para tukang kayu ataupun tukang bangunan untuk diberikan edukasi hingga mampu menghasilkan tukang kayu ataupun tukang bangunan berkompeten.


Mengingat ada beberapa tukang kayu maupun tukang bangunan tidak berpengalaman sehingga perlu rasanya untuk diberikan edukasi terkait hal tersebut.


Dalam perihal pembangunan maka perlu juga untuk dialog dengan tukang kayu yang kompeten terkait desain struktur khusunya pondasi.


(Hamdiah)

19 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua