Antrean Menumpuk di Alalak Berangas, Dermaga Martapura Baru Jadi Alternatif Penyeberangan Truk Angku

terasbanua.com, Banjarmasin - Dermaga pelabuhan Martapura Baru milik Pelindo III Banjarmasin kini dijadikan tempat penyeberangan alternatif bagi truk bermuatan sedang dan berat yang mulanya terpusat di penyeberangan di Alalak Berangas hingga menimbulkan kemacetan panjang.

Antrean truk di Jalan Hasan Basri Banjarmasin. Foto : Ri
Antrean truk di Jalan Hasan Basri Banjarmasin. Foto : Ri

Para sopir yang mengemudikan truk pun kini mulai beralih ke dermaga pelabuhan Martapura Baru sebagai langkah mengurai panjangnya antrean di titik penyeberangan Alalak Berangas yang mengalami penumpukan dari jalan Hasan Basri Banjarmasin begitupun dari jalan trans Kalimantan Barito Kuala.


Plt Kadishub Banjarmasin, Endrie menyebut rencananya akan ada 4 Kapal Landing Craft Tank (LCT) yang difungsikan di dermaga Pelindo III Pelabuhan Martapura Baru, Trisakti Banjarmasin ini.


"Ini merupakan alternatif untuk mengurai antrean di Kayutangi. Karena selama beberapa minggu ini lumayan antreannya yang merupakan dampak banjir juga," ucap Endrie.


Langkah ini disambut gembira Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) dan para sopir truk. Pasalnya kerugian dirasakan akibat perjalanan tertunda bahkan diakui hingga lebih satu hari.


"Bagus, jadi dengan adanya penyeberangan ini bisa terbagi, di sana tidak macet. Jadi tahu di sini dari teman dan aparat juga," ucap seorang sopir bernama Yannor.


"Ini kita memakai milik pemerintah, di sini lebih safety keamanan lebih terjaga. Kalau lebih lama tertahan lebih banyak biaya operasional, kita berharap pemerintah hadir dalam hal ini," tambah ketua Aptrindo Kalsel, Alimusa Siregar.


"ini direncanakan dari jembatan Barito ke pelabuhan Martapura Baru bolak balik zig-zag, kalau dari Aptrindo kita siapkan 4 armada," tambahnya.


Sementara untuk biaya penyeberangan, diperkirakan sama dengan penyeberangan lainnya yaitu Rp.350.000 untuk truk sedang jenis PS.


Sebelumnya, armada truk pengangkut bermuatan besar dan sedang tertahan di penyeberangan dan menunggu antrean panjang akibat rusaknya jalur utama darat yang biasa dilalui akibat banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.


Jalan Gubernur Syarkawi yang biasa dilintasi sebagai penghubung Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah rusak parah sehingga sulit dilalui khususnya angkutan berat yang masih bermuatan.


(Ri)

16 tampilan0 komentar