Ada Guru dan Siswa Terpapar Covid-19, Apakah PTM Dihentikan?

terasbanua.com, Banjarmasin - Baru-baru ini ada kabar guru dan siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19. Diduga siswa dan guru terpapar virus berbahaya selama mengikuti proses pembelajaran tatap muka (PTM) di Banjarmasin.

Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Mengenai hal itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, Agus Totok Daryanto, menepis kabar yang beredar tersebut.


Saat ditelusuri siswa dan guru yang positif virus Covid-19 ternyata tidak terpapar saat mengikuti PTM  melainkan di rumah.


"Ada satu orang murid SMP yang positif selain itu, ada guru SMP dan SD juga tapi mereka terpapar bukan di sekolah tapi rumah tertular karena keluarganya," paparnya.


Sesuai dengan kebijakan yang ada mereka yang terpapar Covid-19 diminta melakukan isolasi mandiri dan tidak diperkenankan untuk mengikuti PTM kembali sebelum benar-benar dinyatakan sembuh dari Covid-19.


Bahkan untuk saat ini pihaknya masih menunggu laporan dari masing-masing sekolah terkait apakah ada siswa atau guru lainnya yang terpapar virus Covid-19.


"Masing-masing sekolah belum ada laporannya. Hanya saja, dari informasi yang saya dapat memang ada guru dan murid yang terpapar," tuturnya.


Melihat kondisi tersebut,  apakah PTM akan tetap dilaksanakan pada tahun ajaran baru di Juli 2021 mendatang?


Totok menjawab akan tetap melaksanakan PTM sebagaimana Surat Keputusan (SK) 4 Menteri yang telah dikeluarkan. Tentunya dengan pelayanan PTM di sekolah yang harus memenuhi protokol kesehatan.


Totok sendiri memiliki alasan mendasari mengapa tetap mempertahankan kebijakan PTM. Walaupun di tengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat di Kota Banjarmasin ini.


Selain banyaknya permintaan orang tua wali tentunya berkaitan pula dengan psikologi siswa itu sendiri. Menurutnya, mental seorang siswa itu tergantung pada keterkaitannya dengan sosial.


Kemudian, dampak kurangnya minat belajar dapat dilihat sekarang ini, banyak anak sekolah yang memilih banyak bermain. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi ada yang mulai bekerja dan berada di jalanan.


"Alasan tersebut menjadi dasar karena pentingnya belajar tatap muka. Yang terpenting fasilitas PTM ini disiapkan termasuk prokesnya," ungkapnya melalui sambungan telepon, Rabu (14/04/21).


Kendati demikian, dirinya menegaskan PTM tidaklah wajib untuk diikuti seluruh siswa. Tapi kembali lagi kepada keputusan orang tua apakah mengizinkan anaknya mengikuti PTM atau tidak.


"PTM sebenarnya tidak wajib, tetapi ketika orang tua menginginkan PTM, maka sekolah harus melayani," tegasnya.


Disinggung adanya pendapat terkait rencana pelaksanaan PTM dapat menimbulkan kluster baru. Totok pun meminta jangan terburu-buru menduga PTM akan menciptakan klaster Covid-19,


Pasalnya pelaksanaan PTM sudah disiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat di setiap sekolah masing-masing.


"Lihat sisi positif dan kepentingan pendidikan. Apakah kita harus pasrah dengan keadaan ini, ya tidak. Ini harus kita hadapi dengan kepentingan pendidikan dan prokes tetap dijalankan," akhirnya.


(Hamdiah)

1 tampilan0 komentar